Pada Minggu, 18 Januari 2026, Program Studi Pendidikan Biologi mengadakan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik. Program Studi menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang menghadirkan para praktisi dan akademisi di bidang lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif sekaligus praktik sederhana yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
Materi I: Eco-Enzyme Practitioner
Narasumber: Ibu Dra. Dwi Ari Budiretnani, M.Pd
Pada sesi pertama, peserta diperkenalkan pada konsep eco-enzyme, sebuah inovasi ramah lingkungan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga. Di awal pemaparan, diketahui bahwa peserta telah memahami pengertian sampah organik, namun belum mengenal eco-enzyme secara mendalam.
Materi yang disampaikan meliputi:
- Pengertian dan konsep dasar eco-enzyme
- Bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya
- Langkah-langkah pembuatan eco-enzyme secara sederhana
- Manfaat eco-enzyme dalam kehidupan sehari-hari, seperti sebagai pembersih alami serta alternatif solusi pengolahan sampah organik
Melalui penjelasan yang sistematis dan aplikatif, peserta mulai memahami potensi eco-enzyme sebagai solusi praktis pengelolaan limbah rumah tangga. Ketertarikan peserta terlihat dari keinginan mereka untuk mencoba membuat eco-enzyme secara mandiri di rumah.
Materi II: Biokonvertor Maggot BSF
Narasumber: Ibu Dra. Budhi Utami, M.Pd
Sesi kedua membahas pemanfaatan maggot sebagai biokonvertor sampah organik. Dijelaskan bahwa maggot merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) yang memiliki kemampuan luar biasa dalam mengurai sampah organik, terutama sisa makanan rumah tangga.
Meskipun sebagian peserta telah mendengar istilah maggot, mereka belum memahami asal-usulnya, jenis lalat penghasilnya, serta manfaatnya dalam pengelolaan limbah. Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa:
- Maggot mampu mengurai sampah organik dengan cepat dan efisien
- Maggot memiliki kandungan protein tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak
- Budidaya maggot dapat menjadi solusi inovatif dan bernilai ekonomis dalam pengelolaan sampah
Melalui materi ini, peserta memperoleh pemahaman dasar mengenai siklus hidup BSF, teknik budidaya sederhana, serta potensi maggot sebagai solusi ramah lingkungan yang berkelanjutan maggot dan cara budidayanya sebagai solusi pengelolaan sampah organik.
Materi 3: Praktisi dan Pegiat Lingkungan
Disampaikan oleh Bapak Sujiman
Dalam sesi ini membahas secara lebih rinci mengenai pembuatan kompos sekam dan fermentasi ala pak sujiman sebagai salah satu metode pengolahan sampah organik rumah tangga. Dalam pemaparannya, Bapak Sujiman menjelaskan materi mengenai kompos sekam, mulai dari bahan-bahan yang dapat digunakan, cara pembuatan, serta cara penyimpanan kompos yang benar. Beliau juga menegaskan bahwa bantalan atau penutup kompos harus menggunakan sekam padi dan tidak boleh diganti dengan bahan lain, karena berfungsi untuk menjaga kelembapan dan mencegah timbulnya bau. Selain kompos sekam, Bapak Sujiman juga menjelaskan fermentasi ala Pak Sujiman, yang pada dasarnya merupakan proses pengolahan sampah organik menjadi kompos, namun dengan cara yang lebih sederhana. Pada materi ini dijelaskan mengenai bahan yang digunakan, pembuatan alat fermentasi, takaran bahan, serta cara penyimpanannya.
Meskipun sama-sama menghasilkan kompos, kompos sekam dan fermentasi ala Pak Sujiman memiliki perbedaan dalam metode pengolahan dan tingkat kesederhanaannya. Melalui materi ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pembuatan kompos sekam serta penerapannya dalam kehidupan sehari- hari. Peserta terlihat semakin memahami materi dan tertarik untuk mencoba membuat kompos secara mandiri di rumah.
